Minggu, 16 Agustus 2009
Alhamdulillah... aku bersyukur atas semua rahmat dan hidayah yang telah dan Insya Allah masih diberikan oleh-Nya.
Alhamdulillah... satu per satu cita-cita dan impianku tercapai...
Ya Allah...
bila Engkau memperkenankanku untuk melengkapi setengah dien ku,
aku berharap dia pria yang bisa "ngemong" aku
Ya Allah...
kabulkanlah doaku,
amin
Minggu, 13 Juli 2008
Virus itu bernama "nyotnyot"
Jumat, 20 Juni 2008
Laskar Pelangi
Andrea Hirata, Ibu Nyi Ayu Masturah, Ayah Seman Said Harun
Ibunda Masturah sedang sakit, kata Bung Andis, kena stroke ringan, semoga cepat sembuh ya Bunda...
Selasa, 17 Juni 2008
Lambang Backpaker Canada
Pohon yang menaungi SD Muhammadiyyah Belitong dari sengatan panas dan guyuran hujan. tempat bersimbiosis hewan-hewan dan homo sapiens di bawahnya. Tempat bermain dan duduk saat istirahat dan membolos sekolah. Tempat terindah untuk memandang pelangi selepas hujan di sore hari. Penghuni dahan tertinggi adalah Kucai dan dahan terendah adalah Sahara.
Pohon yang melatar belakangi foto ini di ambil di halaman villa PGI Bogor saat aku menginap dalam rangka perpisahan dengan mahasiswa program khusus angkatan 3.

Orang Bushman
Ayah Lintang - Almarhum - kurang lebih berwajah mirip seperti ini.

Pilea
Senin, 16 Juni 2008
Paradoks
Berikut paradoks yang ditulis Andrea Hirata di Trilogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor
1. Di Prancis, jaminan sosial sangat bagus tapi warganya enggan punya anak. Di Indonesia: kriminalitas mengganas, jaminan sosial amblas, pendapatan perkapita terjun bebas, tapi bayi terus menerus lahir. Rajin sekali kita beranak.
2. The Brits, Yankee, kelompok Jerman, dan Belanda adalah Pub Crawler kawakan, mereka senang mabuk-mabukkan, mulai jumat sore sampai senin pagi, sebagian hidup seperti bohemian, mengaitkan anting di hidung, mencandu drugs, musik trash metal, berorientasi seks ganjil, dan tak pernah tekun belajar, namun mereka sangat unggul di kelas. Ikal yang hidup sesuai dasa darma pramuka, taat pada orang tua, selalu belajar giat, dan tak lupa minum susu, jarang melebihi nilai mereka....
3. Para petinggi jepang, yang memberi utang, datang ke tempat pertemuan dengan mobil minibus carteran, sedangkan para petinggi Indonesia, yang berutang datang satu per satu dengan Limousine.







